Selamat Datang di Portal Rumah Sakit Advent Bandung

RUMAH SAKIT ADVENT

Health & News

Manfaat Sinar Matahari Pagi

Web Admin RSA

Kebiasaan berjemur sinar matahari di pagi hari tampaknya sudah mulai kehilangan pamor. Tidak sedikit orang yang sekarang memilih bangun siang, kalaupun harus bangun pagi-pagi, itu karena harus berangkat pagi-pagi ke kantor dan sekali lagi tidak bisa menikmati berjemur sinar matahari pagi. Ironis nampaknya, jika dahulu para orang tua selalu membiasakan untuk berjemur di bawah sinar matahari demi pertumbuhan buah hati, tetapi sekarang kegiatan itu ditinggalkan.

 

Padahal banyak sekali Manfaat sinar matahari pagi yang bisa diraih dengan berjemur di pagi hari. Sinar matahari pagi dapat membunuh mikroba dan bakteri. Itulah kenapa karpet dan kasur harus dijemur, sekalipun tidak dicuci. Karena meskipun tidak dicuci, tetapi matahari dapat membunuh bakteri yang ada pada karpet atau kasur. Kemudian ternyata sinar matahari dapat meningkatkan suasana hati atau mood menjadi positif. Ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dilakukan untuk mengusir perasaan galau. Sinar matahari juga dapat mengatasi insomnia. Berjemur di bawah sinar matahari pagi juga ternyata dapat membantu melancarkan sirkulasi darah sehingga asupan nutrisi tidak terganggu dan kesehatan tetap terjaga.

 

Manfaat sinar matahari pagi yang lain dari berjemur pagi yang paling sering didengar adalah untuk kesehatan tulang. Hal ini karena sinar matahari membantu stimulasi vitamin D yang sangat dibutuhkan untuk tulang dan gigi. Stimulasi vitamin D ini juga sangat dibutuhkan untuk bayi, sehingga jemur pagi identik dengan bayi. Pada bayi, sinar matahari juga akan sangat membantu untuk meningkatkan kerja hati sehingga bisa mengurangi kadar bilirubin yang biasanya dialami oleh bayi baru lahir.

 

Sebagai penduduk negara tropis, bangsa Indonesia seharusnya tidak kekurangan vitamin D. Matahari menjadi sumber utama sinar ultraviolet beta yang membentuk vitamin D sehingga vitamin ini berlimpah di Nusantara.

Namun, meningkatnya kesibukan dan jumlah bangunan di kota-kota besar membuat banyak anak cenderung kehilangan sinar matahari pagi yang berkhasiat. Mereka harus berangkat sebelum matahari terbit untuk menghindari kemacetan dan tak banyak lagi ruang terbuka untuk bermain di lingkungan rumah dan sekolah.

Di kota-kota besar—terutama pada masyarakat kelas menengah—kekhawatiran terhadap keamanan lingkungan membuat anak-anak mereka jarang diperbolehkan bermain di luar rumah. Saat akhir pekan pun anak-anak lebih banyak diajak ke mal, apalagi di sana juga tersedia fasilitas bermain.

Khasiat besar

 

Padahal, khasiat vitamin D begitu luar biasa. Suatu penelitian yang pada Desember lalu dipublikasikan di jurnal Dermato-Endocrinology menyebutkan, vitamin D membantu mengurangi risiko berkembangnya autisme.

Penelitian di beberapa negara bagian Amerika Serikat itu berlangsung tahun 2010 pada anak berusia 6-17 tahun dengan tingkat prevalensi autisme yang bervariasi. Ternyata, di negara-negara bagian yang banyak disinari ultraviolet beta, kasus autismenya hanya setengah dari negara-negara bagian yang musim panasnya terbatas.

Tidaklah mengherankan apabila kekhawatiran akan terjadinya defisiensi vitamin D terus meningkat, terutama negara yang tidak sepanjang tahun disinari matahari. November bahkan menjadi bulan kewaspadaan vitamin D dan berbagai penelitian dilakukan dengan hasil yang mengagetkan.

Prof Mitch Blair dari Royal College of Paediatrics and Child Health, Inggris, Desember lalu menulis di BBC News bahwa separuh dari jumlah anak dan 90 persen dari populasi multietnik dewasa yang tinggal di Inggris kekurangan vitamin D.

Defisiensi vitamin D diketahui terkait erat dengan munculnya berbagai gangguan kesehatan pada anak-anak dan dewasa, seperti diabetes, tuberkulosis, multiple sclerosis, dan rakitis: gangguan pada tulang yang banyak dijumpai pada anak-anak miskin di Inggris.

Di Selandia Baru yang banyak bermandi sinar matahari, ada Universitas Massey yang meneliti status vitamin D anak dengan dana dari Health Research Council negeri itu. Anak-anak berumur 2-4 tahun direkrut sepanjang Agustus dan September 2012 untuk melihat korelasi kecukupan vitamin D dengan gangguan pernapasan, penyakit kulit seperti eksim, dan alergi.

Penelitian di Selandia Baru juga penting untuk mengukur peran sinar matahari pada pembentukan vitamin D karena hampir semua bahan makanan di negara tersebut masih bebas dari fortifikasi vitamin D. Meskipun vitamin D juga terdapat pada sejumlah makanan seperti minyak ikan, telur, dan jamur, kadarnya hanya 10 persen dari rekomendasi untuk kecukupan asupan.

Vitamin D tergolong hormon steroid yang produksi dan metabolismenya baru berlangsung saat kulit terpapar sinar ultraviolet beta. Sepanjang tiga dekade, defisiensi vitamin D diasosiasikan dengan berbagai penyakit seperti kanker, gangguan kardiovaskular, otoimun, dan diabetes. Namun, para peneliti di Universitas Massey juga berhasil membuktikan bahwa kekurangan vitamin D bisa memicu resistensi terhadap insulin sehingga memunculkan diabetes melitus tipe

Upaya intervensi

 

Menurut Prof Mitch Blair, upaya mengatasi defisiensi vitamin D harus dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari penyediaan suplemen vitamin D secara luas dan dengan harga murah hingga fortifikasi vitamin D pada berbagai jenis makanan dan minuman.

Hasil penelitian Prof Marlena Kruger, masih dari Universitas Massey, yang berlangsung di Jakarta, Indonesia, dan Manila, Filipina, sepanjang tahun 2007-2008, menunjukkan bahwa fortifikasi vitamin D memang signifikan mengurangi defisiensi.

Dalam penelitian ini, perempuan responden yang sudah menopause diminta meminum susu yang sudah difortifikasi vitamin D, magnesium, dan seng, sedangkan responden kontrol hanya meminum plasebo berisi serum hormon paratiroid. Kadar vitamin D responden diukur sebelum dan setelah intervensi dilakukan.

Seperti yang dimuat dalam jurnal ilmiah Bone volume 46, Maret 2010, hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang minum susu fortifikasi berkurang defisiensi vitamin D-nya. Pada perempuan Indonesia, defisiensi turun dari 70 persen menjadi 22 persen dan pada perempuan Filipina turun dari 20 persen menjadi 0 persen. Susu yang difortifikasi vitamin D, magnesium, dan seng juga sukses meningkatkan kadar osteokalsin pada minggu kedelapan dari 18 persen menjadi 25 persen. Procollagen tipe I N-propeptide (PINP) juga meningkat pada minggu kedelapan dari 15 persen menjadi 21 persen.

Kedua senyawa tersebut berperan dalam pembentukan tulang. Artinya, minum susu secara teratur—terutama yang sudah difortifikasi—membantu memperkuat tulang dan mencegah osteoporosis.

Perlu sosialisasi

Oleh karena itu, sosialisasi peran vitamin D menjadi penting. Meski Indonesia mendapat sinar matahari hampir sepanjang tahun, hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa masih banyak penduduk yang mengalami defisiensi vitamin D, terutama perempuan.

Maka, pertama-tama masyarakat perlu memahami peran vitamin D, dampaknya apabila kekurangan, dan kemudian cara-cara untuk mendapatkan kecukupan vitamin D. Para petugas kesehatan termasuk penyuluh kesehatan, perawat, dan dokter, wajib memahami gejala kekurangan vitamin D dan bagaimana penanggulangannya.

Sejak usia dini, anak-anak juga perlu didorong beraktivitas di luar ruang. Oleh karena itu, kehadiran ruang terbuka yang aman dan nyaman menjadi penting agar berkah sinar ultraviolet beta tidak sia-sia.

 

MENCEGAH KEPIKUNAN

Penyakit Alzheimer terdengar menakutkan dan sulit ditangani. Namun mungkin Anda tidak akan pernah menyangka bila dengan cukup mencukupi kebutuhan vitamin D, Anda sudah dapat mengurangi risiko terkena Alzheimer.

Dua studi baru menemukan, vitamin D dapat mengurangi risiko perempuan terkena penyakit Alzheimer,  khususnya pada wanita di usia pertengahan. Mereka yang tak cukup vitamin D memiliki risiko lebih besar terkena gangguan kognitif dan mengalami penurunan mental lebih cepat dibandingkan mereka yang mengonsumsi cukup vitamin D.

Vitamin D adalah vitamin penting yang dapat diperoleh melalui beragam jenis makanan seperti ikan, mentega, keju dan susu. Selain itu, tubuh juga mampu membuat vitamin D sendiri saat terkena sinar matahari.

Studi pertama yang diketuai Dr. Yelena Slinin, peneliti dari Medical Center di Minneapolis Amerika Serikat, menemukan bahwa wanita yang kekurangan vitamin D berisiko lebih besar mengalami ganggunan kemampuan kognitif.

Slinin dan timnya menganalisa tingkat kadar vitamin dari 6.257 wanita yang dilibatkan dalam penelitian Osteopathic Fractures. Para wanita juga mengalami tes kemampuan mental yang dikenal sebagai Mini-Mental State Examination dan/atau Trail Making Test Part B.

Para peneliti menemukan, wanita dengan tingkat kadar vitamin D yang sangat rendah yaitu kurang dari 10 nanogram per mililiter serum darah berisiko lebih besar mengalami gangguan kognitif lebih cepat. Selain itu, rendahnya kadar vitamin D yaitu kurang dari 20 nanogram per mililiter di antara wanita yang mengalami gangguan kognitif, berkaitan dengan risiko lebih besar mengalami penurunan mental (demensia).

Studi kedua yang diketuai Dr. Cedric Annweiler dari Angers University Hospital di Perancis juga menyatakan hal yang senada.  Setelah menganalisa data 489 wanita yang berpartisipasi dalam Epidemiologi Osteoporosis, peneliti menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi cukup vitamin D lebih tidak mudah terkena penyakit syaraf.

Hasil penelitian menunjukkan, wanita dengan penyakit Alzheimer mengonsumsi vitamin D rata-rata 50,3 mikrogram per minggu. Sedangkan wanita yang mengidap demensia mengonsumsi rata-rata 53,6 mikrogram per minggu, dan wanita tanpa penyakit syaraf apapun rata-ratanya adalah 59 mikrogram per minggu.

Peneliti berpesan, penting artinya bagi Anda untuk mencukupi kebutuhan vitamin D. Cara yang dapat dilakukan di antaranya adalah meningkatkan asupan makanan sumber vitamin D, minum suplemen, hingga berjemur di bawah sinar matahari pagi.

© 2017 RS Advent Bandung