Customer Service (022) 2034386 | IGD (022) 2038008

  • slider
    Selamat Datang di Rumah Sakit Advent Bandung
  • slider

    Anda Mau Sehat?

    Lakukan 10 Hukum Kesehatan

  • slider
  • slider
  • slider

Pelayanan Kami


Gunakan fitur berikut sebagai panduan penjelajahan website Rumah Sakit Advent Bandung
Daftar Online

Gunakan fitur daftar online untuk memudahkan registrasi kunjungan pasien

Instalasi Gawat Darurat

Dapatkan info lengkap mengenai IGD kami

Info Dokter

Temukan dokter beserta jadwal lengkapnya disini

Pendaftaran Pasien Online


Pendaftaran pasien online hanya berlaku untuk pasien yang telah terdaftar dan memiliki nomor rekam medik.

Berita & Informasi


Berita dan informasi terbaru seputar kesehatan dan Rumah Sakit Advent Bandung
01 NOV
PERESMIAN NEUROSURGICAL CENTER DAN PENGGUNAAN 2 KENDARAAN AMBULANCE YANG BARU Admin

PERESMIAN NEUROSURGICAL CENTER DAN

PENGGUNAAN 2 KENDARAAN AMBULANCE YANG BARU

 

NEUROSURGICAL CENTER

Rumah Sakit Advent Bandung kembali bersyukur atas berkat Tuhan dengan penambahan pelayanan maupun fasilitasnya.  Diawal bulan Nopember 2017 telah diadakan peresmian terhadap layanan baru yaitu Neurosurgical Center.  Suasana gembira nampak di wajah Pengurus dan Direksi serta seluruh PSP (Pimpinan dan Staf, Pelaksana) yang hadir dimana acara tersebut diawali dengan renungan firman Tuhan oleh Pdt. S. Sarjono.

Dalam renungannya Pdt. S. Sarjono mengulas tentang doa seorang tokoh Alkitab perjanjian lama yang bernama Yabes.  Doa mohon berkat yang berkelimpahan, perluasan wilayah dan perlindungan.  Hal ini juga merupakan harapan RS. Advent Bandung.  Dengan penambahan layanan ini maka doa dan harapan kami bersama adalah bahwa Tuhan akan memberkati dengan limpah pelayanan ini untuk menjadi saluran berkat juga bagi pasien yang datang.

Dalam sambutannya Dr. dr. Roy D. Sarumpaet, Sp. THT-KL., Direktur RS. Advent Bandung, begitu antusias menjelaskan bahwa tambahan layanan Neurosurgical ini sebagai salah satu kebutuhan masyarakat yang penting dan bahwa kita beruntung karena tenaga-tenaga yang ahli dibidangnya berkomitmen untuk mensukseskan layanan baru ini.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Bpk. B. F. Sihotang, MBA, Ketua Umum Pengurus Yayasan RS. Advent Bandung serta mengajak semua karyawan untuk selalu bersyukur kepada Tuhan.  Berkat Tuhan selalu diberikan bagi kita dan tambahan layanan ini biarlah dapat digunakan dengan maksimal untuk melayani masyarakat.

 

DUA UNIT AMBULANCE

Setelah selesai dari lantai 7 untuk mendoakan ruangan dan fasilitas untuk Neurosurgical Center maka semua berpindah ke lantai dasar / basement dimana dua unit kendaraan ambulance yang baru berada.

Sambutan oleh Wakil Direktur Keuangan sekaligus sebagai Bendahara Pengurus Yayasan mengatakan bahwa ini adalah realisasi rencana kerja dan merupakan terobosan yang disampaikan oleh Direktur dengan memesan sekaligus 2 ambulance yang tidak terlalu besar agar lebih gesit dan lincah masuk ke tempat-tempat yang jalannya kecil.  Satu ambulance akan digunakan di Klinik Pratama Advent yang berlokasi di Tamansari.

Dr. dr. O. Tampubolon, MHA sebagai Sekretaris Umum Pengurus Yayasan juga menyambut dengan baik pengadaan ambulance ini dan mengajak semuanya untuk selalu mensyukuri berkat-berkat Tuhan kepada Rumah Sakit Advent Bandung.

 

Harapan kita bersama bahwa dengan penambahan pelayanan dan fasilitas yang baru akan menambah semangat kita melayani sesama untuk menjadi provider layanan kesehatan yang unggul di kota Bandung.

  

05 NOV
Pengapuran Sendi atau Osteoartritis Web Admin RSA

Apa itu osteoartritis (OA)?

           Osteoartritis adalah suatu penyakit kronis yang mengenai sendi dan tulang di sekitar sendi tersebut. Masyarakat awam mengenal osteoarthritis sebagai pengapuran sendi.  

Dulu OA dianggap penyakit degeneratif, atau penyakit orang tua karena sendi menjadi aus atau usang, namun dewasa ini diketahui melalui penelitian-penelitian ternyata selain akibat aus terdapat proses peradangan yang mempengaruhi kerusakan pada sendi tersebut, walaupun peradangan yang terjadi tidak sehebat penyakit radang sendi yang lain seperti artritis reumatoid.

Selain diakibatkan oleh aus, osteoartritis juga dapat disebabkan oleh karena trauma atau akibat dari penyakit sendi yang lain (sekunder). Tulang rawan yang terdapat di antara sendi berfungsi sebagai bantalan pada saat sendi dipakai, namun karena bagian ini rusak maka permukaan tulang pada sendi tersebut saling beradu sehingga timbul rasa nyeri, bengkak dan kaku.

Gejala klinis

            Keluhan yang dirasakan pasien OA adalah nyeri pada sendi, terutama sendi yang menyangga berat tubuh (seperti sendi lutut atau pinggang). Nyeri terutama dirasakan sesudah beraktivitas menggunakan sendi tersebut, dan berkurang jika istirahat.

Kadang-kadang timbul rasa kaku di sendi tersebut pada pagi hari sesudah bangun tidur, berlangsung kurang dari 30 menit. Kaku ini akan membaik setelah digerak-gerakkan beberapa saat. Bila digerakkan bisa terdengar bunyi “krek” krepitus. Setelah beberapa waktu kemudian penyakit ini dapat memberat sehingga terasa nyeri juga pada saat sedang istirahat. Penekanan pada beberapa bagian tertentu di sekitar sendi yang nyeri akan terasa sakit. Gerak sendi juga menjadi terbatas karena nyeri.

Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang dapat menegakkan diagnosis OA, namun pemeriksaan radiologi (rontgen) dapat membantu, walaupun hasilnya seringkali tidak sesuai dengan gejala yang dirasakan pasien. Pada rontgen dapat terlihat gambaran celah sendi yang menyempit, tumbuh tulang kecil (osteofit) dan terjadi sklerosis (pengapuran) disekitar sendi yang terkena tersebut.

 

Faktor risiko OA

          Usia tua merupakan salah satu faktor risiko terjadi OA. Hampir semua orang di atas usia 70 tahun mengalami gejala OA ini, dengan tingkat nyeri yang berbeda-beda. Sebelum usia 55 tahun perbandingan OA pada pria dan wanita sebanding, namun pada usia di atas 55 tahun lebih banyak pada wanita.

Faktor risiko lain adalah riwayat keluarga dengan OA, berat badan berlebih, pekerjaan yang membutuhkan jongkok atau berlutut lebih dari 1 jam/ hari. Pekerjaan mengangkat barang, naik tangga atau berjalan jauh juga merupakan risiko.

Olah raga yang mengalami trauma pada sendi seperti sepak bola, basket atau voli juga meningkatkan risiko OA. Beberapa penyakit lain yang bisa menimbulkan OA sekunder antara lain artritis reumatoid, gout, hemofilia.

 

Pengobatan

          Osteoartritis tidak dapat disembuhkan. Penyakit ini biasanya makin lama makin memburuk sejalan dengan usia. Tetapi keluhan OA dapat dikontrol sehingga penderita OA dapat beraktivitas seperti biasa dan melakukan kegiatan sehari-hari tanpa rasa nyeri. Beberapa obat dapat membantu perlambatan kerusakan yang terjadi, mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri. Selanjutnya jika tetap nyeri walaupun sudah menjalani semua prosedur pengobatan maka pilihan terakhir adalah operasi. Pemasangan sendi palsu pada sendi yang rusak itu dapat membantu pasien-pasien yang tidak respon terhadap terapi.

 Terapi Non Farmakologis:

 

Edukasi:

              Pertama-tama penderita OA harus mengerti dulu apa yang terjadi pada sendinya, mengapa timbul rasa sakit dan apa yang perlu dilakukan, sehingga pengobatan OA dapat berhasil. Pada saat beraktivitas terasa nyeri dan jika istirahat nyeri hilang, sehingga banyak penderita memilih diam, seminimal mungkin melakukan aktivitas agar tidak nyeri, hal ini kurang tepat karena otot-ototnya akan menjadi lemah kalau jarang digunakan, selanjutnya beban ke sendi akan menjadi lebih berat dan pada saat berjalan/ bangun dari duduk nyeri semakin hebat. Pasien OA harus berusaha agar tetap dapat melakukan aktivitas sehari-hari, latihan dan tidak menjadi beban bagi orang di sekitarnya, karena itu edukasi sangatlah penting dalam penanganan penyakit OA ini.

Selain itu penderita harus hati-hati menggunakan obat-obat “stelan”atau beberapa macam “jamu” yang dijual bebas dengan promosi “ dapat menghilangkan rematik atau asam urat” Campuran yang terdapat dalam obat-obat ini kadang dapat berbahaya bagi pasien yang mengkonsumsikannya. Efek samping yang terjadi adalah mata rabun, tulang keropos, tensi darah meningkat, lambung luka bahkan ada yang sampai muntah darah, ginjal terganggu dan bahkan sampai fatal dan menyebabkan kematian. Hindari penggunaan obat-obat seperti ini.

Kompres:

           Jika sendi sedang bengkak maka pilihannya adalah kompres dingin, dan jika sudah teratasi atau rasa kaku maka pilihannya adalah kompres hangat

Menjaga berat badan ideal:

Penting memperhatikan berat badan (BB). Jika BB berlebih harus diturunkan sampai BB ideal. Berat badan yang berlebih akan menjadi beban bagi sendi-sendi yang menopang tubuh, sehingga semakin nyeri.

 

Diet yang seimbang:

          Selama ini banyak mitos yang beredar di masyarakan mengatakan bahwa makan sayur-sayuran hijau atau kacang-kacangan dapat menyebabkan nyeri sendi, hal ini tidaklah tepat. Sayur-sayuran dan kacang-kacangan tidak menyebabkan nyeri sendi. Tidak ada makanan tertentu yang menyebabkan nyeri pada OA, namun makan yang berlebihan sehingga berat badan meningkat akan menambah nyeri, karena menambah beban pada sendi untuk menopang berat badan.

 

Perubahan gaya hidup:

          Hindari posisi atau keadaan yang menimbulkan trauma pada sendi seperti jongkok, lompat, lari, terlalu sering naik-turun tangga atau berdiri terlalu lama.  Tetap menjalani aktivitas sehari-hari. Jika timbul nyeri istirahatlah sejenak, atasi nyerinya dan kembali beraktivitas. Jika pekerjaan Anda menimbulkan nyeri maka harus melakukan penyesuaian terhadap pekerjaan tersebut, contohnya jika memasak di dapur dan saat berdiri lama timbul nyeri maka usahakan pada saat menyiapkan masakan dapat dikerjakan dalam posisi duduk, sehingga tidak berdiri terlalu lama di dapur. Contoh lain, jika biasanya mencuci baju dalam posisi jongkok, maka gunakan kursi pendek untuk duduk saat mencuci sehingga dapat mengurangi trauma pada lutut.

 

Latihan 

            Menggunakan otot-otot, terutama otot paha bagi mereka yang mengalami OA pada lututnya merupakan terapi yang baik. Cara latihan adalah dalam posisi berbaring terlentang lalu angkat kaki lurus (lutut tidak ditekuk) setinggi 30 derajat lalu pertahankan sampai 8 hitungan (10 detik) kemudian turunkan dan ganti ke kaki sebelahnya. Lakukan secara bergantian selama beberapa kali. Latihan ini dapat menguatkan otot paha jika dilakukan berulang-ulang beberapa kali dalam sehari dengan jumlah yang meningkat secara bertahap dari hari ke hari.

Latihan yang lain adalah menaruh handuk di bawah lutut, lalu dalam posisi berbaring terlentang atau duduk, menekan handuk tersebut dengan cara mengencangkan otot-otot paha kemudian ditahan dalam 8 hitungan (10 detik) kemudian direlaks kan lagi, bergantian paha kiri dan kanan. Latihan ini dilakukan bertahap dan semakin hari semakin meningkat frekuensinya.

 

Olah raga:

         Pilihan olah raga yang dianjurkan pada pasien OA adalah berenang dan bersepeda, kedua olah raga ini tidak menggunakan beban berat tubuh sehingga mengurangi nyeri sendi. Jika tidak memungkinkan untuk kedua olah raga tersebut maka jalan kaki di tempat yang datar dan rata dapat dilakukan dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing penderita.

Alat bantu:

Menggunakan alat bantu untuk sendi seperti tongkat, walker, dan “deker”atau suatu alat pelindung untuk sendi dapat membantu dalam melakukan aktivitas. Konsultasikan dengan dokter mengenai pilihan alat bantu yang tepat dengan keadaan OA yang diderita.

 

Terapi Farmakologis:

          Parasetamol: merupakan pilihan obat yang cukup aman untuk mengobati OA, kecuali pada mereka yang alergi terhadap obat ini. Obat yang dikenal sebagai tablet penurun panas ini mempunyai efek mengurangi rasa nyeri sehingga dapat digunakan pada OA. Pasien OA perlu mendapat anti nyeri selama waktu tertentu sehingga bisa kembali beraktivitas, melakukan latihan terhadap otot-ototnya supaya otot-ototnya menjadi kuat dan mengurangi beban terhadap sendinya.

 

  •      Obat anti inflamasi non steroid: Penggunaan obat-obat ini harus melalui konsultasi dengan dokter. Efek samping obat-obat golongan ini terutama mengenai lambung, ginjal dan jantung, karena itu sebelum digunakan harus berkonsultasi dengan dokter. Obat golongan ini dapat mengurangi radang yang terjadi di sendi dan sekitarnya, sehingga rasa nyeri akan jauh berkurang.

  •      Obat-obat suplemen: glukosamin, kondrotin, diacerin dan kapsaisin dll, merupakan suplemen untuk OA yang banyak ditemukan dalam masyarakat. Meskipun relatif aman namun sebaiknya konsultasikan juga dengan dokter, bagaimana manfaatnya, sampai kapan boleh digunakan dan efek apa yang harus diperhatikan.

  •         Suntikan hyaluronat: obat ini diberikan dalam bentuk suntikan langsung ke dalam rongga sendi, berfungsi sebagai pelumas dan menambah cairan sendi. Penggunaannya harus hati-hati dan hanya boleh dilakukan oleh dokter yang ahli dalam menyuntikannya, karena jika tidak tepat atau kurang steril maka akan berbahaya bagi pasiennya. Ada beberapa macam obat dengan kekentalan yang berbeda-beda sehingga penyuntikannya ada yang sekali, atau 2 sampai 5 kali suntik dengan jarak 1x seminggu.

  •      Suntikan kortikosteroid: Obat ini dapat digunakan pada keadaan sendi yang meradang dan bengkak. Dokter akan menyuntikan obat ini setelah mengeluarkan terlebih dahulu cairan berlebihan dari sendi yang bengkak, fungsinya sebagai anti radang. Penggunaan obat ini juga harus hati-hati maksimal 3 kali dalam setahun, karena kalau terlalu sering malah berakibat kerusakan pada sendi itu sendiri (steroid artropati).

 

Terapi bedah

Operasi atau tindakan bedah merupakan alternatif terapi bagi penderita OA yang sudah tidak respon dengan terapi farmakologi maupun non farmakologi di atas. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain adalah:

  • Artroskopi: menggunakan alat kecil yang dimasukan ke dalam rongga sendi untuk membersihkan tulang rawan yang rusak

  • Sinovektomi: operasi untuk mengatasi jaringan sendi yang mengalami peradangan

  • Osteotomi: operasi yang dilakukan terhadap salah satu bagian tulang sehingga posisi dan letaknya menjadi lebih baik dan mengurangi rasa nyeri pasien.

  • Penggantian sendi: operasi menggantikan sendi yang rusak dengan sendi baru yang terbuat dari bahan metal.

01 SEP
Pencegahan Luka Borok Tekan Web Admin RSA

Apakah itu Luka Borok Tekan?

Luka yang terjadi pada kulit dengan/tanpa bagian dibawahnya yang biasa terjadi di atas tulang yang menonjol akibat dari penekanan, gesekan, atau  pergeseran pada kulit.


Di mana saja Luka Borok Tekan bisa terjadi?



Mengapa Luka Borok Tekan bisa terjadi?


Siapa saja yang berisiko?


  • Usia Tua

  • Gizi buruk

  • Kencing manis

  • Immobilisasi (tirah baring lama)

  • Demensia (pikun)

  • Penurunan kesadaran

  • Kulit yang terlalu kering akibat kurang minum

  • Kulit yang terlalu lembab akibat mengompol


Bagaimana Mencegahnya?

  1. Sadari adanya risiko pada pasien

  2. Perhatikan  kondisi kulit pasien

    1. Jaga kelembaban kulit dengan cara mengoleskan body lotion, cukup minum, mandi dengan sabun yang mengandung moisturizer

    2. Jangan memijat atau menggosok daerah tonjolan tulang

    3. Hindari penggunaan pampers

    4. Cebok dengan tissue basah non alcohol, jangan diusap dengan kasar

3. Pemberian nutrisi yang cukup untuk pasien

       a. Tawarkan minum sesering mungkin

       b. Berikan makanan tinggi protein


17 AUG
Upacara Perayaan Kemerdekaan RI yang ke 70 Web Admin RSA

Bpk Thomas Trisno Memimpin Uparaca Perayaan Kemerdekaan RI yang ke 70.. Semua Karyawan Rumah Sakit Advent Bandung begitu antusias untuk ikut serta dalam Upacara Perayan Kemerdekaan ini.


09 JUN
Efektifitas Metode Buteyko Pada Anak Usia Sekolah dengan Asma Web Admin RSA

Bagi Anda yang menderita asma, mungkin Anda sering mendengar metode Buteyko atau Buteyko Breathing Technique, yakni teknik pengaturan pernafasan untuk mengatasi sindrom hiperventilasi kronik yang disebabkan oleh kebiasaan over-breathing (bernafas berlebihan). Menurut Profesor Konstantin Buteyko, asal Rusia, hiperventilasi ini dapat menyebabkan berbagai ganguan.

            Kita membutuhkan CO2 dalam konsentrasi tertentu yakni sekitar 6,5%. Sayangnya kandungan CO2 dalam udara bebas sangat sedikit hanya 0,3%. Kondisi hiperventilasi justru akan mengurangi kadar CO2 dalam tubuh kita. Ini berarti, semakin sedikit kandungan CO2 dalam tubuh sama dengan makin berkurangnya jumlah O2 yang tertukar. Selain itu saluran pernafasan akan menguncup lantaran mempertahankan CO2 dalam darah. Kondisi inilah yang memicu penyakit asma, juga bisa mempengaruhi sistem saraf, jantung, keseimbangan asam-basa dan saluran pencernaan.

            Atas semua dasar itu, Buteyko menerapkan prinsip shallow breathing (bernafas dangkal) untuk mencegah serangan sindrom hiperventilasi. Control Pause (CP) untuk  mendeteksi status kondisi asma. Cara untuk bernafas dangkal adalah sebagai berikut :

  • Langkah 1 : bernafas hanya melalui hidung, baik saat menarik nafas dan menghembus nafas. Pastikan mulut tertutup sewaktu bernafas.

  • Langkah 2 : bernafaslah hanya dengan diafragma, tidak dengan pernafasan dada. Atur posisi dan duduklah di depan cermin. Letakan tangan diperut. Perhatikan bahwa tidak terjadi penggunaan otot-otot dada untuk bernafas.

  • Langkah 3 : letakan jari di bawah hidung. Nafas haruslah sangat dangkal dimana hampir tidak terasa pergerakan udara (saat tarikan dan hembusan nafas)

  • Langkah 4 : Pengukuran control pause dan pemeriksaan denyut nadi setelah menyelesaikan tahapan 5 menit seperti yang tersebut diatas.

  • Istirahat

Sebelum memulai tahapan 5 menit berikutnya, sebaiknya istirahat. Untuk memperoleh manfaat yang besar dari latihan Buteyko ini, maka dibutuhkan waktu minimal 20 menit per hari.

  • Cara tes bernafas control pause (CP)

Control Pause untuk mendeteksi status kondisi asma. Caranya siapkan stop watch dan sebuah kursi nyaman untuk duduk dengan tegak. Kemudian mulailah bernafas dengan teratur hanya melalui hidung, dan reguler selama 30 detik atau lebih. Setelah itu, ambil nafas biasa melalui hidung, dan hembuskan biasa. Lalu, tutup perlahan hidung anda dengan ibu jari dan telunjuk, lalu mulailah jalankan stop watch. Tahan terus, sampai anda merasakan kebutuhan untuk bernafas. Lalu, buka hidung anda dan bernafas kembali melalui hidung. Periksa waktu anda, bila kurang dari 10 detik maka anda memerlukan perhatian khusus. Bila 30-40 detik cukup memuaskan, dan bila lebih dari 60 detik berarti baik.

  • Langkah-langkah ini sebaiknya dilakukan  sebelum makan atau menunggu setidaknya dua jam setelah makan karena pencernaan dapat mempengaruhi pernafasan.

 

            Bagaimana metode Buteyko ini dapat dilakukan pada anak usia sekolah yang menderita asma . Tujuan pengobatan asma pada anak-anak adalah agar anak tetap dapat hidup baik dan normal. Meminimalisasi gejala dan kunjungan ke dokter, serta menemukam metode pengobatan yang tepat . Menurut WHO 2011, ada sekitar 235 juta orang menderita asma dan merupakan penyakit kronis yang paling umum diantara anak-anak. Menurut statistik American Academy of Allergy Asthma & Immunology (AAAAI) tahun 2012, asma menyumbang sekitar 500.000 rawat inap setiap tahun dan itu adalah penyebab ketiga peringkat rawat inap di antara anak-anak di bawah usia 15 tahun. WHO pada tahun 2011, kematian akibat asma di Indonesia mencapai 14.624 jiwa. Angka ini berarti asma menyebabkan sekitar 1% total kematian di Indonesia. Sektar 1,1% populasi Indonesia menderita asma.

          Asma adalah suatu kondisi yang menyebabkan penyempitan dan peradangan pada saluran udara paru-paru, sehingga menimbulkan beberapa gejala seperti sesak nafas, batuk, suara mengi saat bernafas dan pembengkakan dan nyeri di paru-paru. Beberapa faktor pemicu asma adalah : (1) Alergen : seperti tungau debu rumah, bulu binatang, kecoa, jamur dan serbuk sari, (2) Infeksi saluran nafas atas. (3) Irritants lingkungan seperti asap, polusi udara, udara dingin atau kering, wewangian kuat atau senyawa organik yang mudah menguap di semprotan, dan produk pembersih. (4) Berolaraga. (5) Stress. Asma adalah kondisi yang tidak dibatasi oleh usia tertentu. Ia bahkan dapat menyerang anak pada  usia dini sekalipun dan sangat mempengaruhi kualita hidup. Intensitas kambuhnya asma , ternyata dapat dikontrol. Salah satunya dengan melalukan latihan pernafasan.

             Asma yang terjadi pada anak usia sekolah tidak hanya mempengaruhi status fisiologinya tetapi juga dapat mengganggu seluruh kapasitas fungsionalnya sehingga apabila hal ini tidak ditangani dengan baik maka akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut.  Mengingat fakta bahwa anak-anak ini berada dalam fase Industri vs Inferioritas menurut teori tahap perkembangan Psikososial  Erik Erikson penyakit kronis pada eksaserbasi akut dapat menghambat  perkembangan anak karena membatasi kesempatannya untuk melakukan perannya tidak hanya di sekolah dan di rumah tetapi juga di masyarakat. Dengan demikian kegagalan untuk berprestasi  dapat mengganggu perkembangannya.

            Pada usia ini, anak-anak mungkin tidak dapat memahami kompleksitas diagnosis dan pengobatan. Akibatnya kesalapahaman mereka tentang penyakit dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk menangani gejala dan untuk mengatasi pada tingkat fisik dan psikologis. Sehubungan dengan ini perlu untuk memberikan manajemen yang cepat dan tepat untuk mengontrol gejala asma  sehingga dapat meningkatkan kwalitas hidup anak usia sekolah. Hal ini dapat dicapai melalui manajemen farmakologis dan terapi pelengkap lainnya yaitu complementary alternative medicine (CAM) sebagai pengobatan alternativ tambahan yaitu metode Buteyko.

            Buteyko merupakan salah satu pengobatan alternativ yang terbukti dapat mengontrol kejadian asma dan meningkatkan kualitas hidup pada anak dengan asma  hal ini didukung oleh sebuah jurnal yang berjudul “ Effectiveness of Buteyko Method in Asthma Control and Quality of Life of School-age Children”. Yang ditulis oleh Romella et.al. Tahun 2015 hasilnya penggunan metode Buteyko dalam waktu 3-4 minggu sebagai tambahan untuk manajemen konvensional asma dapat membantu di dalam meningkatkan pengontrolan asma dan meningkatkan kualitas hidup anak usia sekolah.

            Penggunaan metode Buteyko sebagai tambahan untuk manajemen konvensional asma menunjukan peningkatan yang signifikan dalam kontrol asma dimana  kebutuhan dalam obat-obatan asma mulai bisa dikurangi dan dalam meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik di antara anak-anak usia sekolah dengan asma bronkial. Dimana kualitas hidup secara normal  di nilai oleh individu sendiri, karena kualitas hidup ditentukan oleh pengalaman-pengalaman subjektif, kondisi-kondisi dan persepsi-persepsi kita. Anak yang mempunyai kualitas hidup yang baik akan mempunyai kepuasan terhadap seluruh aspek hidupnya mulai dari segi fisik, sosial, psikologis mental, dan spiritual. 

 

 

 

 

Grace Evelyn Malinti Skep.Ners

STIKES  JENDRAL  ACHMAD YANI

PRODI KEPERAWATAN S-2  2015.

BERITA SELENGKAPNYA

© 2017 RS Advent Bandung